Selasa, 04 Maret 2014

sastra



TAK ADA YANG LEBIH INDAH DARI RUMAH INI,
: di lorong rumah sakit tua …

Lorong rumah sakit tua yang pengap dan terasa panjang,
pada dindingnya yang putih seekor cecak merayap kehilangan ekor
Di sal, ya … di sal itu, di kamar yang lebih mirip barak pesakitan korban perang itu
Tertulis di atas pintunya Ruang Penyakit Menular,  kita berjumpa …
antara kolong ranjang bercat putih dan bau-bau obat dengan sedikit rayap kecoa
Besi jendela yang telah berkarat itu selalu kau cium saat kau melirik aku
Memang begitu dekat wajah kita, hanya kaca, jendela buram, dan bau karbol  pembersih  yang memisahkan.

“Orang miskin tak boleh sakit” bisikmu. Sambil kau monyongkan mulut.
Kau tertawa kecil tertahan. Aku mengira kau masih malu melihat wajahku.
Tapi kau terus menyerocos, “Dari mana kau dapat biaya untuk obat dan rawat inap.
Sebentar lagi dokter datang!”, kau berteriak
“Aku tak akan lagi menatapmu! Kekasihku telah datang”,
 Udara wangi baju putih dokter telah jadi milikku.
Lihat. Dia menari dalam botol infusku.
Dia pasti akan memelukku. Setelah aku minum obat.
Sebab dia suka melihat aku berbaring dengan botol infus, dengan
selang saluran kencing di vaginaku.

Hei, mengapa kau teriak? Bukankah esok pagi kau akan di CT Scan.
Kau bisa memilih yang kontras atau biasa
Untuk melihat apakah di kepalamu, di otakmu terjadi penyumbatan pembuluh darah
Atau ada pembuluh darah yang pecah.
Kau mestinya bahagia. Memuja Tuhanmu.
Karena kau pasti akan dipilihkan yang terbaik, tentu yang kontras.

Aku benci kepadamu. Mengapa kau akan pulang esok.
Di rumah kau akan jadi bunga tempat tidur.
Di sini kau menjadi primadona, membakar dupa dan bercinta dengan jejak laut
Yang tercipta dari mata perawat perawat dan dokter.
Sungguh matanya teduh mengajakku terpasung dengan rantai bunga-bunga
tembaga yang kini benar-benar aku menyukainya,  apalagi Tuanku…
Lekas kembalilah ...
Tak ada yang lebih indah dari Rumah ini,

Madiun – Kelun,  14 – 16 Oktober 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar