TAK ADA YANG LEBIH
INDAH DARI RUMAH INI,
: di lorong rumah sakit tua …
Lorong rumah sakit tua
yang pengap dan terasa panjang,
pada dindingnya yang
putih seekor cecak merayap kehilangan ekor
Di sal, ya … di sal
itu, di kamar yang lebih mirip barak pesakitan korban perang itu
Tertulis di atas
pintunya Ruang Penyakit Menular,
kita berjumpa …
antara kolong ranjang
bercat putih dan bau-bau obat dengan sedikit rayap kecoa
Besi jendela yang
telah berkarat itu selalu kau cium saat kau melirik aku
Memang begitu dekat
wajah kita, hanya kaca, jendela buram, dan bau karbol pembersih
yang memisahkan.
“Orang miskin tak
boleh sakit” bisikmu. Sambil kau monyongkan mulut.
Kau tertawa kecil
tertahan. Aku mengira kau masih malu melihat wajahku.
Tapi kau terus menyerocos,
“Dari mana kau dapat biaya untuk obat dan rawat inap.
Sebentar lagi dokter
datang!”, kau berteriak
“Aku tak akan lagi
menatapmu! Kekasihku telah datang”,
Udara wangi baju putih dokter telah jadi
milikku.
Lihat. Dia menari
dalam botol infusku.
Dia pasti akan
memelukku. Setelah aku minum obat.
Sebab dia suka melihat
aku berbaring dengan botol infus, dengan
selang saluran kencing
di vaginaku.
Hei, mengapa kau
teriak? Bukankah esok pagi kau akan di CT Scan.
Kau bisa memilih yang kontras
atau biasa
Untuk melihat apakah
di kepalamu, di otakmu terjadi penyumbatan pembuluh darah
Atau ada pembuluh
darah yang pecah.
Kau mestinya bahagia.
Memuja Tuhanmu.
Karena kau pasti akan
dipilihkan yang terbaik, tentu yang kontras.
Aku benci kepadamu.
Mengapa kau akan pulang esok.
Di rumah kau akan jadi
bunga tempat tidur.
Di sini kau menjadi
primadona, membakar dupa dan bercinta dengan jejak laut
Yang tercipta dari
mata perawat perawat dan dokter.
Sungguh matanya teduh
mengajakku terpasung dengan rantai bunga-bunga
tembaga yang kini
benar-benar aku menyukainya, apalagi
Tuanku…
Lekas kembalilah ...
Tak ada yang lebih
indah dari Rumah ini,